Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Mei 2013

Garap Komunitas, Indosat Luncurkan "icity"



Jakarta, Endonesia.com
Menyadari bahwa tak semua persoalan pelangganan bisa diatasi dengan "call center", Indosat akhirnya serius menggarap komunitas netizen atau pengguna internet. Tak hanya sekadar untuk ngobrol, program yang diberi nama "Forum icity" itu diharapkan mampu berbagi pengetahuan dan pengalaman, termasuk untuk menghadapi persoalan pelanggan.

Forum tersebut diklaim merupakan crowd sourcing platform pertama di Asia Pasifik. "Forum ini juga merupakan pelopor online forum khusus pengguna Telco di Indonesia," kata Director & Chief Commercial Officer Indosat, Erik Meijer.

Erik mengatakan, Forum icity dihadirkan sebagai salah satu alternatif solusi yang  efektif bagi pelanggan dalam menyelesaikan masalah layanan yang dihadapi, juga sekaligus forum untuk diskusi & berbagi informasi.  "Diharapkan dengan adanya Forum ini dapat bermanfaat bagi pelanggan sebagai tempat diskusi yang asyik untuk berbagi info dan solusi seputar teknologi, layanan Indosat hingga aktivitas komunitas penggunanya,” katanya.

Forum berbasis solusi ini dapat diakses melalui web http://icity.indosat.com. Crowd sourcing platform sendiri adalah sebuah platform yang menjadi forum atau media komunikasi yang memungkinkan para anggotanya dapat saling mencari informasi, solusi dan berbagi pengalaman. Cara ini adalah solusi umum yang mudah untuk memastikan pelanggan bisa dengan mudah mengatasi persoalan.

Forum icity,  yang sebelumnya dikenal dengan nama Forum Ngobrol Bareng, sejak diluncurkan 12 September 2012 lalu,  kini telah memiliki lebih dari 5.500 member, lebih dari 34.000 postingan dengan fitur unggulan berupa Bank Solusi Komunitas. Facebook Application khusus forum juga dibuat untuk memudahkan fans mengakses informasi dan solusi serta berinteraksi dengan komunitas pengguna lainnya tanpa harus meninggalkan halaman Facebook mereka. (emi)

Rakyat Gantian Ancam "Interpelasi" DPRD DKI

Jakarta, Endonesia.com

Ancaman dari DPRD DKI Jakarta yang akan memakzulkan Gubernur DKI Joko Widodo barulah isu, namaun netizen di media sosial terutama di change.org sudah bertindak lebih dulu. Mereka ramai-ramai menandatangani petisi online yang berisi dukungan kepada Jokowi dan sekaligus hujatan kepad DPRD DKI Jakarta.


Dukungan warga Jokowi terkait program Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang diangap dipolitisi anggota DPRD. Petisi yang baru dibuat di http://www.change.org/supportJokowi ini pada Senin (27/5/2013) malam telah ditandatangani sedikitnya 3.000 orang dari target hanya 1.966.

Petisi digalang warga Jakarta bernama Masinton Pasaribu yang menuntut Ketua dan anggota DPRD penggagas interpelasi untuk mencabut rencana pemakzulan Jokowi. Petisi juga digalang oleh Landry Arieffianto yang bahkan menuntut DPRD dibubarkan.

Mereka menyayangkan tindakan anggota DPRD yang berupaya menggagalkan kebijakan pro rakyat yang dilaksanakan gubernur Jokowi. Apalagi hak interpelasi tersebut ditujukan untuk memakzulkan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta.

“Sebagai wakil rakyat seharusnya yang dilakukan DPRD DKI Jakarta adalah mendorong terlaksananya program prorakyat yang diamanatkan UUD. Masyarakat selama ini merindukan adanya pemerintahan yang berpihak pada kepentingan rakyat, melayani dan melindungi hak rakyatnya. Saya dengan tegas menolak pemecatan terhadap Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta yang sah berdasarkan pilihan langsung oleh rakyat” kata Masinton.

Campaign Director Change.org Indonesia, Usman Hamid, mengatakan tuntutan petisi Masinton dan Landry muncul secara organik segera setelah kabar rencana pemakzulan Jokowi mencuat. "Dibandingkan petisi-petisi lain yang biasanya mendesak pejabat pemerintah, petisi ini unik karena justru menyatakan dukungan kepada pejabat pemerintah seperti Jokowi," kata Usman. (EMI)

Rabu, 15 Mei 2013

Vonis Chevron dan Ketidakpastian Hukum Indonesia


"Gaji jaksa berasal dari kita. Dikriminalisasi seperti ini Chevron
(harusnya) marah. Chevron lakukanlah biar negara tahu diri. Demi
Allah, saya haram seperak pun korupsi," begitu Herlan bin Ompo
meluapkan emosinya usai divonis bersalah oleh Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi, Jakarta, Rabu (8/5).


"Chevron pegang 40 persen produksi minyak di Indonesia. Berfikir
logislah jangan semena-mena. Sampai ujung dunia pun saya akan banding.
Saya akan melawan," lanjut Herlan.


Emosi yang sama juga diluapkan usai pledoi maupun tuntutan. "Hanya
karena seorang Edison Effendi, yang kalah tender, didengar omongannya
oleh Kejaksaan Agung, saya jadi begini menderita," kata Herlan.


Kemarahan itu ia sampaikan di luar persidangan sambil mendekap ketiga
anaknya yang masih kecil-kecil. Anak-anak Herlan berlinangan air mata,
didampingi ibunya, Sumiati.


"Nih koruptor nih. Tapi beli mobil pakai duit sendiri, bukan pake gaji
dari meras orang. Jujur ya, tanya itu jaksa gajinya berapa, mobilnya
berapa? Jangan maling teriak maling," teriak Herlan.


Kontraktor pekerjaan bioremediasi PT Chevron Pacific Indonesia, Herlan
bin Ompo, divonis pidana penjara enam tahun dan denda Rp 250 juta.
Perusahaannya, PT Sumigita Jaya (SGJ), diwajibkan membayar pengganti
kerugian 6,9 juta dollar AS.


Sebelumnya, Ricksy Prematuri, Direktur PT Green Planet Indonesia
(GPI), divonis penjara 5 tahun, denda Rp 200 juta. GPI diwajibkan
membayar uang pengganti 3,089 juta dollar AS.


Beberapa jam setelah vonis, berbagai media merilis pemberitaan soal
kekhawatiran iklim investasi akibat ketidakpastian hukum Indonesia.
Kasus ini memang kontroversial.


Pihak terlibat kontrak bagi hasil yaitu Satuan Kerja Khusus Kegiatan
Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan tak ada kerugian
negara. Kontrak bagi hasil masih berlangsung hingga 2021 dan ada
penyelesaian tersendiri jika terjadi perselisihan.


Dalam kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC), ternyata
ada kelebihan bayar kepada pemerintah sehingga pemerintah harus
mengembalikan 24 juta dollar AS kepada Chevron. Namun karena ada kasus
bioremediasi, pemerintah hanya mengembalikan 14 juta dollar AS.

Sisanya, 9,9 juta dollar AS itu ditahan (suspend) sebagai proses
normal jika ada perselisihan. Mekanisme itu disebut overlifting.


"Fakta soal over lifting dan suspend ini ditutupi JPU. Negara tak
pernah dirugikan, uang yang dikeluarkan untuk bioremediasi adalah uang
Chevron sendiri," kata Herlan


Sementara, Kementerian Lingkungan Hidup yang berkepentingan dengan
pekerjaan pemulihan lahan, juga menyatakan tak ada pelanggaran
dilakukan.


Sepi pemberitaan

Pelopor bioremediasi yang kemudian memicu KLH menelurkan Keputusan
Menteri LH No 128 Tahun 2003 terkait bioremediasi, ternyata Chevron.
Maka, ketika Chevron diseret ke pengadilan dengan Kepmen itu, pastinya
bakal seru.


Kenyataannya, di Pengadilan Tipikor Jakarta, kasus Chevron sedikit
diminati awak media. Usut punya usut, alasannya menggelikan, yaitu
karena ditangani Kejaksaan Agung.


Berbeda dengan kasus-kasus yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi
yang selalu jelas hitam-putihnya, kasus yang ditangani Kejagung sejak
awal mendapat stigma negatif.


Di sidang pertama pembacaan dakwaan, kejaksaan tak mau memberikan
salinannya kepada awak media, sesuatu yang biasanya justru diobral
pihak jaksa KPK untuk transparansi dan sosialisasi dakwaannya akurat.
Akhirnya, sidang Chevron sepi seperti kasus kejaksaan lainnya.


Bintang pada sidang-sidang Chevron adalah Edison Effendi, ahli
bioremediasi yang diragukan kredibilitasnya dari kubu Chevron. Laporan
bioremediasi fiktif berasal dari Edison, orang yang pernah kalah
tender di Chevron.


Edison pula yang menjadi ahli ketika kejaksaan menganalisa sampel
tanah tercemar, kemudian menjadi saksi fakta, dan terakhir dijadikan
ahli bioremediasi di persidangan.


Parahnya, pasal yang dikutip dalam dakwaan dipermasalahkan terdakawa
Kukuh Kertasafari, pegawai Chevron. Kukuh melaporkan keteledoran jaksa
ke Komisi Kejaksaan yang salah mengutip pasal sehingga dirinya bisa
terseret kasus itu.


Dikatakan jaksa, konsentrasi minimal tanah tercemar (TPH/Total
Petroleum Hidrocarbon) yang boleh dibioremediasi +7,5 – 15%.
Sementara, di Kepmen 128, hanya disebutkan rentang TPH maksimal 15%.


Kasus sederhana

Kasus ini sebenarnya sederhana. Herlan dan Ricksy mendaftar menjadi
kontraktor pekerjaan teknis (misalnya pengangkutan tanah, pengadukan,
pemupukan) dalam proyek bioremediasi Chevron. Kontraktor bekerja
berdasar prosedur Chevron.


Seharusnya, jika ada persoalan, kata Herlan dalam pembelaannya, yang
berperkara adalah Chevron dengan pemerintah Indonesia. "Ini ibaratnya
saya penumpang taksi, saya ditilang polisi karena sopir taksi
melanggar lalu lintas," kata Herlan.


Corporate Communication Manager Chevron, Doni Indrawan ketika
mendengarkan vonis dengan geram juga menyatakan alasan yang dibangun
majelis hakim itu seharusnya untuk Chevron, bukan untuk kontraktor
Chevron.


"Sebagai kontraktor pekerjaan teknis, berdasarkan peraturan
pemerintah, kontraktor tak harus mengurus izin sendiri karena
kewajiban mengurus izin ada pada Chevron sebagai pemilik limbah," kata
Doni.


Teknik sampling tim Edison untuk dijadikan bukti juga dipertanyakan.
Namun, teknik itu sulit diverifikasi di persidangan karena yang
dihadirkan sebagai ahli bioremediasi adalah Edison sendiri.


Setiap pertanyaan kubu terdakwa, selalu dimentahkan Edison atau tak
dijawab sama sekali. Ricksy menyatakan, pengambilan sampel untuk
kasusnya salah tempat karena lokasinya berjarak dua jam perjalanan
dari lokasi semestinya.


Edison di persidangan sudah memastikan bahwa sah-sah saja jika sampel
tanah tercemar diambil di Rasuna Said Jakarta untuk mewakili sampel di
Riau. Jawaban ini jadi bahan olok-olokan hingga kini.


Keganjilan lain, pekerjaan uji sampel itu ternyata hanya dikerjakan di
laboratorium dadakan di Kejagung. Soal keganjilan ini juga
disampaikan hakim anggota Sofialdi, yang mengajukan dissenting opinion
(beda pendapat) dalam vonis.


Menurut Sofialdi, adalah fakta bahwa Edison adalah wakil perusahaan
yang kalah tender tahun 2007 dan 2011 pada proyek bioremediasi
Chevron. Sehingga ada konflik kepentingan pada keterangan Edison dan
keterangan seperti itu harus diabaikan.


Peristiwa menggelikan lain, seorang hakim anggota dengan penuh percaya
diri pernah mencerca teknik pengolahan limbah dengan mengaduk-aduk
tanah tercemar. Padahal, aduk mengaduk ini bagian umum proses
bioremediasi.


Bagi hakim, tampak sulit menerima teori bahwa pelaku pekerjaan
bioremediasi itu sebenarnya bukan siapa-siapa melainkan sang
mikroorganisme. Lebih sulit dipahami, ternyata mikroorganisme bisa
saja berasal dari lokasi tanah tercemar yang distimulus agar aktif
mendegradasi kandungan minyak.


Atas banyaknya keganjilan itu, tiga perguruan tinggi, tempat tiga
orang terdakwa (dari total lima orang terdakwa), mengerahkan para
alumninya untuk memberi dukungan. Mereka adalah ikatan alumni dari
Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Institut
Pertanian Bogor.


Menguras emosi

Kasus ini juga mengurai banyak air mata. Banyak kegembiraan yang
disiapkan para pendukung terdakwa, namun akhirnya berakhir dengan
kehampaan karena logika mereka tidak sejalan dengan jaksa dan hakim.


Pendukung terdakwa mulai berbondong-bondong penuh keyakinan
mendampingi terdakwa ketika terdakwa akan dituntut jaksa. Namun,
kejaksaan ternyata lebih percaya diri dengan menuntut Ricksy pidana
penjara 12 tahun dan Herlan 15 tahun.


Herlan marah kepada jaksa dengan tuntutan tak logis itu. Jaksa ia
anggap telah memfitnah dirinya sehingga keluarganya menderita. Istri
Herlan pingsan mendengarkan tuntutan itu. Emosi Herlan terbakar.


Herlan menggendong istrinya keluar ruangan sidang. Sebelum menjangkau
pintu keluar, Herlan berbalik ke arah jaksa yang masih berada di meja
sidang.


Penuh emosi tertahan, Herlan menatap para jaksa. "Saksikan ini semua,
biar puas kalian. Ini koruptor, biar puas kalian. Hai jaksa dengerin,"
teriak Herlan.


Usai pembacaan tuntutan Ricksy, drama yang menyesakkan juga terjadi.
Masih di ruangan sidang, seorang bocah remaja menghampiri jaksa di
meja sidang. "Kamu punya anak enggak?" begitu tanyanya.


Belum sempat direspons jaksa, petugas kepolisian sudah mengusir bocah
tadi. Tanpa disadari banyak pihak, bocah tadi diduga putra dari
Ricksy.


Selain putra Ricksy, ada tiga orang putra dan putri Herlan. Mereka
sempat bertemu dalam aksi solidaritas di luar sidang pascapembacaan
pledoi. Isak tangis tak tertahankan dalam aksi yang dihadiri oleh
Hotasi Nababan.


Hotasi pernah diseret sebagai terdakwa dalam kasus sewa pesawat
Merpati Nusantara Airlines namun akhirnya divonis bebas. "Vonis bebas
bukanlah hal mustahil, kita berharap mereka juga divonis bebas seperti
saya," kata Hotasi.


Namun, kali ini Rikcsy dan Herlan, juga kemungkinan tiga terdakwa
lainnya, tak bernasib sama dengan Hotasi. Entah karena hakimnya, entah
karena sebab lainnya. Vonis ini telah meningkatkan ketidakpastian
hukum di Indonesia.


"Chevron meminta kepastian dan jaminan pemerintah Indonesia tentang
kepastian hukum pelaksanaan mekanisme PSC migas dalam penyelesaian
sengketa proyek-proyek yang telah jelas diatur di dalamnya yang
mengikat secara hukum bagi pemerintah Indonesia," kata Doni. (Amir
Sodikin)

Sabtu, 04 Mei 2013

Merinding Membaca Laporan Perbudakan Kwali di Tangerang


Di zaman modern yang katanya tinggal di negeri gemah ripah loh jinawi

dengan Pancasila sebagai dasar negara, ternyata perbudakan masih saja

terjadi. Sabtu dini hari, sebuah laporan lengkap melalui Twitter yang

disuarakan dari akun @yatiindriyani seolah memecah kesunyian dini

hari.



Timeline tersebut seolah berasal dari abad gelap masa lalu yang tak

pernah terbayangkan terjadi di era media sosial ketika semua orang

dengan mudah berkomunikasi dan mengadu. Walaupun peristiwa itu terjadi

ketika seharusnya orang-orang sudah lelap, namun banyak warga

internet atau netizen yang terbangun untuk sekadar berbagi informasi.



"TL (timeline) @yatiandriyani tentang pekerja pabrik kwali ini bikin

merinding, duh Gusti, masih ada yang kek gini," kata pemilik akun

@bundabaik.



"Geram baca TL @yatiandriyani, ternyata masih ada perbudakan di

Tangerang," begitu sambar akun @nukman.



Di profile Twitter milik @yatiandriyani, tercantum bahwa Yati

Andriyani adalah salah satu pengurus dari KontraS (Komisi untuk Orang

Hilang dan Korban Tindak Kekerasan).



Di bawah ini adalah laporan langsung dari tempat kejadian yang

disampaikan oleh @yatiandriyani.





Korban mengadu ke @KontraS krn dikerjapaksakan, dipukul, disiram timah

panas,disundut rokok disebuah pabrik, disekap.



Korban sampaikan ke @KontraS sekitar 40 korban lainya, yang juga

disekap, dianiaya, dipekerjapaksakan menunggu dibebaskan.



Lurah dari Lampung lapor ke Polda Metro, desak pembebasan korban

lainya di pabrik Kwali tersebut.



Korban turut serta dengan tim Polda Metro dan Polresta Tigaraksa

gerebek pabrik kwali di Kampung Bayur Opak, Cadas, Tangerang



Di pabrik Kwali tersebut @KontraS, Tim Polda, Polresta Tigaraksa

dapatkan 28 korban yang masih remaja, berasal dari Lampung, Cianjur,

Bandung.



Saat pengerebekan @KontraS dan Tim Polisi dapatkan 5 orang dalam ruang

penyekapan yang dikunci dari luar.



Temuan @KontraS jumlah sementara korban sekitar 36 orang. Dengan

kondisi: seluruh badan seperti terbakar legam karena efek mengolah

limbah timah.



Bawah mata cenderung hitam, badan kurus, rambut kaku, luka pukulan,

luka air timah, asma, batuk, gatal-gatal, kadas, kutu air, dan

lain-lain.



Sebanyak 28 korban semuanya tidak menggunakan baju, karena setiap

orang hanya diperkenankan memiliki satu baju saja.



Temuan @KontraS kondisi tempat kerja paksa kumuh, tertutup, panas, di

dalamnya terdapat tempat mengolah timah untuk kwali.



Temuan @KontraS korban dipekerjakan tanpa dibayar, jam kerja pkl

06.00-22.00, harus mmenuhi pembuatan kwali sehari 22, jika tidak ada

bonus penganiayaan.



Temuan @KontraS pakaian, uang dan mobilephone korban diambil oleh

pelaku, korban dilarang bersosialisasi keluar tempat kerja.



Temuan @KontraS sekitar 40 korban tidur di ruangan 40x40 meter

persegi, tanpa jendela/ventilasi, 1 WC, tertutup, bau, pengap, kotor.



Temuan @KontraS makanan yang diberikan ke korban hanya berlauk sambel

dan tempe, dengan menu yang sama hampir setiap harinya.



Temuan @KontraS korban rata-rata usia 20-an tahun, 5 diantaranya

berusia dibawah 18 tahun.



Temuan @KontraS lokasi penyekapan dan pembuatan kwali berada dalam

satu komplek dengan rumah pelaku yang megah berlantai dua.



Temuan @KontraS saat pengumpulan korban, satu diantaranya hanya

gunakan handuk kecil karena baju dan celana yg satu-satunya dimiliki

sedang dijemur.



Temuan @KontraS istri pemilik pabrik menyita 22 mobilephone milik

korban dan para centeng menyita baju dan uang.



Sebanyak 28 korban ini dibawa ke Polres Tigaraksa, Tangerang untuk

dimintai kesaksian, proses BAP masih berjalan sampai sekarag.



Temuan @KontraS para korban terbiasa mandi dengan mengunakan sabun

colek, di satu WC tanpa bak mandi yang menyatu dengan ruang

penyekapan.



Saat ini di Polresta Tigaraksa para korban tidak memiliki pakaian

ganti, makanan, uang untuk bekal.



Para korban masih ketakutan dan trauma tapi bahagia karena telah

dibebaskan dari penyekapan.



Para korban membutuhkan pakaian ganti, sandal, perlengkapan mandi,

dokter dan obat-obatan.



Para korban juga membutuhkan pendampingan psikologis untuk bebas dari

rasa takut dan belajar kembali menata masa depanya.



Para korban rindu keluarga sangat di Bandung, Cianjur, Lampung tapi

mereka tak punya bekal untuk kembali ke keluarga.



Esok kami akan bicara lagi dengan korban, bantu mereka bicara benar,

bantu mereka keluar dari rasa takut, bantu mereka berani menatap masa

depan.



Mari rentangkan tangan untuk mereka. Mereka hanya anak-anak desa yang

butuh kerja demi cintanya pada keluarga.



Miskin, bodoh tak pernah mereka inginkan. Negara yang korup, pemimpin

yang baal, politisi yang tuli, terus tumbuhkan benih

ketidakmanusiawian.



Yuks rentangkan tangan bersama untuk mereka, dan semua korban di

negeri ini. Salam, selamat malam.



Itulah rangkaian laporan langsung dari lokasi kejadian yang

disampaikan @yatiandriyani. Hingga berita ini dibuat, respons di media

sosial masih terus berkembang.



Sabtu hari ini, KontraS akan menggelar konferensi pers tentang kasus

yang menyengat rasa kemanusian kita dan menampar bangsa ini. (Amir

Sodikin)

Senin, 29 April 2013

Ketika Presiden Belajar Jadi Warga Baru


Rasanya, baru beberapa hari lalu Presiden kita, Susilo Bambang

Yudhoyono, bergabung dengan warga internet atau netizen. Di akhir

kepemimpinannya, ia membuka akun Twitter, itu berarti ia mencoba

membuka diri, tak hanya untuk Indonesia namun juga dunia.





Konsekuensinya, di dunia media sosial, Presiden harus merelakan egonya

karena tiap suara akan diberlakukan sama, tak mengenal kasta, tak

mengenal jabatan. Ia harus cepat merespons, banyak mendengar, dan rela

berbagi ketenaran dengan orang-orang di dunia nyata yang bukan

siapa-siapa.





Menarik dicermati bagaimana warga baru ini bergaul di dunia media

sosial. Mampukah ia menyesuaikan diri dan menjadi warga yang baik? Apa

yang sudah Presiden pelajari dari dunia baru ini?





Selama sepekan ini, Kompas dibantu dengan berbagai mesin algoritma

mencoba menelisik akun @SBYudhoyono, diantaranya menggunakan

PoliticaWave. Algoritma buatan PoliticaWave termasuk paling lengkap

karena sudah disesuaikan dengan Bahasa Indonesia sehingga mampu

memetakan sentimen percakapan terkait @SBYudhoyono.





Mesin analisa PoliticaWave dari 13-20 April menemukan fakta menarik.

Jumlah percakapan terkait akun @SBYudhoyono mencapai 818.978 dan

dengan jumlah akun yang membicarakan sebanyak 409.814. "Jumlah ini

fenomenal, rekor baru nasional karena telah melampaui rekor sebelumnya

yang dipegang Jokowi yang mencapai 250.000 percakapan," kata Yose

Rizal, Direktur PoliticaWave.





PoliticaWave memperkirakan distribusi percakapan terkait @SBYudhoyono

bisa menjangkau 295.579.339 pengguna. Hal itu dikarenakan user yang

terlibat pembicaraan termasuk akun-akun dengan follower banyak, baik

dari dalam negeri hingga luar negeri.





Akun yang membicarakan @SBYudhoyono jumlah followernya berkisar

101-500 follower, dan beberapa akun memiliki follower lebih dari

10.000. "Selain itu, jumlah percakapan per akun terkait @SBYudhoyono

juga cukup banyak karena mereka rata-rata melakukan 1-10 kali," kata

Yose.





Data itu menekankan tingginya antusiasme publik menyambut kehadiran

Presiden sebagai tetangga baru mereka. Seperti di dunia nyata, tak

semua suara ramah menyambut orang baru.





Dari analisa percakapan netizen, terungkap sebanyak 710.959 percakapan

bersikap netral, 56.174 percakapan bernada positif, dan 51.845 bernada

negatif. Sebagai langkah awal, data ini tak begitu buruk untuk

@SBYudhoyono.





Dari percakapan yang bernada negatif, di situlah SBY akan belajar

sesuatu dari dunia baru ini. Yose Rizal mengatakan, sentimen negatif

disumbangkan dari beberapa isu, misalnya miripnya akun SBY dengan

Presiden Amerika Serikat Barack Obama, tweet yang cenderung normatif

dan pencitraan, serta akun-akun yang di-follow akun @SBYudhoyono yang

kebanyakan akun selebritas.





Pengkritik pedas SBY justru orang-orang biasa yang bukan siapa-siapa.

"Malu ga sih kalau avatar + bio SBY yang mirip Obama jadi berita di

Amerika?" begitu komentar @mututucin.





Dari sentimen negatif ini, SBY akan belajar bahwa sesuatu yang tak

original dan menjiplak itu tak mendapat tempat di media sosial dan

mereka membencinya. "Twitter SBY sama dengan Barack Obama, bio dan

headernya sama, cieeh plagiat :D," sambar @naohutabarat.





Akurasi adalah pelajaran kedua yang bisa dipetik. Administrator akun

@SBYudhoyono pernah salah mengutip kata-kata mutiara, "Speak is

silver. Silence is golden", yang kemudian diralat oleh admin menjadi

"Speech is silver. Silence is golden".





Namun, kesalahan admin itu sudah menyebar dan jadi bahan olok-olok.

Bagusnya, netizen paham kalau itu bukan SBY, terlihat dari tweet tanpa

tanda * SBY*. "Sembrono! Pake akunnya RI 1 salah ketik!" kata

@ninokhariyani.





Netizen akhir-akhir ini memang banyak mengkritik admin yang mengelola

akun Presiden karena perilakuknya dianggap tak sesuai. Salah satu yang

menghebohkan adalah akun @SBYudhoyono yang mem-follow akun-akun dari

para selebritas.





"SBY mungkin tidak, tapi adminnya yang kegenitan," begitu @_khadafy

menanggapi kasus tersebut. "SBY gaul banget, nge-follow artis-artis,

kenapa bukan rakyat saja yang di-follow," kata @zhrismi.





Administrator akun seorang Presiden harusnya dipegang orang yang paham

kebijakan publik dan melek teknologi informasi sehingga bisa produktif

memanfaatkan teknologi. Banyak yang berharap, admin Twitter Presiden

harunya seorang pakar komunikasi atau pakar kebijakan publik.





"Miminnya (istilah untuk administrator) akun @SBYudhoyono makan gaji

buta tuh. Hampir semua tweet dibuat SBY sendiri," kata @sigitwid. SBY

memang menandai tweet dari dirinya sendiri dengan kode * SBY* sehingga

orang bisa menghitung mana tweet dari SBY pribadi mana yang dari staf

administrator. "35 dari 42 tweet @SBYudhoyono bertanda * SBY* artinya

presidennya lebih banyak ngetweet daripada stafnya, mungkin stafnya

lebih sibuk kerja," kata @LiongkyTan.





Presiden juga harus membiasakan dengan pengguna media sosial yang

cerewet dan sering usil dengan hal-hal sepele. Akun @dipanggilaing

mengkritik tweet SBY yang sering diselingi dengan gambar, yang menurut

pengkritik akan menunjukkan perbedaan tingkat sosial. Padahal, niatan

SBY pastinya sebaliknya, agar rakyat mengenal lebih dekat Presidennya.





Banyak pula tweet bernuansa dukungan terhadap kebijakan Presiden dan

itu ditanggapi dari kalangan beragam, terutama anak-anak muda. "Memuji

langkah Pak @SBYudhoyono yang action dulu baru nge-tweet, semoga tetap

begtu di hari berikutnya," kata @subosito menanggapi tweet SBY

terhadap kecelakaan Lion Air di Bali.





Respons SBY terhadap kejadian-kejadian terkait bencana baik di tanah

air maupun luar negeri dirasa makin cepat dan membaik, setelah

sebelumnya dianggap terlambat menanggapi masalah Ujian Nasional. "Tadi

pagi saya mau twit 'Kok SBY ga ngetwit tentang #prayforboston? Dia

belum biasa sama kecepatan twitter', gud deh barusan dia twit ini

untuk Obama," kata @BillyBoen.





Daripada tidak



Guru besar psikologi politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia,

Prof Hamdi Muluk, mengaku agak kaget dengan keputusan SBY membuka diri

dengan membuka akun Twitter. "Kenapa tidak dari dulu punya akun

Twitter, ketika gaya komunikasi SBY dikeluhkan banyak pihak karena

selalu lambat merespons," kata Hamdi.





Misalnya ketika SBY lambat merespons kisruh KPK vs Polri beberapa

waktu lalu, sebenarnya bisa ditutupi dengan respons cepat di Twitter.

Tapi, langkah SBY ini lebih baik daripada tidak sama sekali.





Hingga kini, setelah SBY memiliki akun Twitter, Hamdi menilai belum

banyak mengubah banyak gaya komunikasi SBY. Walau beberapa sudah

tampak responsif, misal ketika ada gonjang-ganjing Ujian Nasional, SBY

memberi respons walaupun belum secepat yang diharapkan.





"Jika gayanya sudah berubah, ketika kasus eksekusi Susno Duadji

mencuat, seharusnya SBY cepat tanggap di hari pertama pemberitaan

kasus itu," kata Hamdi. Terlepas dari semua itu, SBY tampak telah

berusaha memperbaiki gayanya walaupun terlambat.





"Harapannya, SBY semakin tanggap terkait kebijakan publik. Solusi yang

dibutuhkan adalah bersifat kebijakan, bukan sekadar menjadi sinterklas

pada kasus per kasus, misal terkait kasus anak 12 tahun Tasripin,"

papar Hamdi.





SBY memang sempat mengomentari pemberitaan media massa terkait kisah

Tasripin, anak 12 tahun yang bekerja sebagai buruh tani untuk

menghidupi adik-adiknya. "Saya akan segera mengutus Staf Khusus saya,

bekerja sama dengan Gubernur Jateng, untuk mengatasi persoalan hidup

Tasripin," kata @SBYudhoyono.





SBY memberi solusi konkrit, namun selaku kepala pemerintahan, yang

dibutuhkan lebih ke kebijakan. Misalnya, memerintahkan kepada Menteri

Sosial untuk mendata Tasripin-Tasripin lain kemudian membuat kebijakan

ikutan bagaimana mengatasinya.





Kini, SBY harus legowo dengan berbagai kemungkinan. Pengkritik dia

paling tajam belum tentu seorang pakar, bisa jadi seorang anak SMU

yang geram dengan ujian nasional. Pembisik kebijakan dia belum tentu

seorang akademisi bergelar profesor, bisa jadi ia hanya buruh.





Pengumpul pendukung dia belum tentu dari Demokrat, karena faktanya

akun Fatin Shidqia Lubis di Facebook, paling banyak mengumpulkan

pendukung.





Penggerak spirit dia belum tentu seorang kiai, tapi bisa jadi sebuah

tweet dari antah berantah yang berisi tautan kisah "Tasripin". Silakan

klik tautan yang demikian Pak Presiden, dan jangan salah klik tautan

yang dikirim @vickyvette yang tempo hari getol mengajak kenalan. (Amir

Sodikin)

Selasa, 16 April 2013

Ujian Nasional dan Respons Presiden di Media Sosial

@alifanfajri: Pak @SBYudhoyono mengapa UN kami beda? Sesulit inikah

kami meraih masa depan?

@ferrafeb: Pak @SBYudhoyono UN terlalu membebani kami. Lagipula banyak

kecurangan juga kan? Udahlah hapus saja.

@kenyoooo: Pak @SBYudhoyono UN hanya cuma membuat siswa kreatif

mencari kecurangan, kalau UN seperti ini terus indonesia kapan

majunya?





Ketika dulu anak-anak sekolah seakan tak mungkin mengakses pemegang

kebijakan di pemerintahan, kini dengan kehadiran teknologi mereka bisa

langsung mengungkapkan curahan hati. Langsung tak hanya kepada

menteri, tapi kepada Presiden RI.



Senin (15/4), sejak dini hari hingga malam, anak-anak muda dengan

dunia internetnya menyuarakan kegelisahannya kepada pemerintah.

Melalui internet yang berada di genggaman tangan, mereka meluapkan

segala keluh di dunia media sosial.



Usai UN, mereka dengan penuh harap menyampaikan kritik kepada Presidan

yang baru beberapa hari ini memiliki akun Twitter @SBYudhoyono.



Maka, tak heran jika dunia media sosial dipenuhi dengan keluhan,

doa-doa, harapan, caci maki, bercampur satu dan semuanya terkait

pelaksanaan Ujian Nasional yang amburadul.

Lalu, apa jawaban @SBYudhoyono terkait UN? Hingga sore hari, tak ada

respons. SBY hanya mengirim status: "Bermain volley dengan karyawan

Pupuk Kujang dan masyarakat Karawang".



Pagi hari sebelumnya, SBY memang sudah menyapa siswa dengan tips

sukses UN, "3 kunci sukses Ujian Nasional. Belajar, yakin diri dan doa

kepada Tuhan. Insya Allah kalian sukses."

Pesan itu sempat jadi bahan olok-olok yang dipicu oleh seorang

sutradara film. "We wonder why Indonesia's never won a Nobel," ledek

@DanielZiv.

Perlawanan anak muda



PoliticaWave kali ini ikut memetakan kegelisahan anak-anak muda

terhadap UN. Ditemukan sebuah cara unik dalam menyampaikan kritik

dengan menggunakan tagar #ReplaceSongTitleWithUN.

Tagar in dipromosikan @MetroTipi, sebuah akun parodi berita. Akun ini

mengajak orang bermain olah kata dengan cara mengganti salah satu kata

dalam judul lagu dengan kata UN.

@MetroTipi: SO7 - UN Ditepi Jalan. *sekolahnya digusur*

@hendralm: Taylor Swift - I Knew UN Were Trouble

@sutisna_tizz: Nicky Astria - Jangan Lagi ada UN



Ternyata permainan ini mendapatkan respons besar. Dari pemantauan

PoliticaWave, lebih dari 5.000 percakapan isinya berkaitan dengan

tagar ini.





"Bila ditelusuri lebih detail, sebagian besar judul lagu yang

diplesetkan merupakan kalimat negatif yang memberikan sentimen

negatif," kata Yose Rizal, Direktur PoliticaWave.

Hal ini menggambarkan UN sebagai hal yang menakutkan bagi para siswa

dan berharap agar UN ditiadakan. Tingginya partisipasi netizen

terhadap perlawanan ini membuat tagar tersebut jadi trending topic

Twitter di Indonesia bahkan dunia.





Keberhasilan #ReplaceSongTitleWithUN mencapai puncak popularitas dalam

waktu yang lama, hampir setengah hari, merupakan bukti kuatnya

perlawanan UN ini di kalangan anak muda. Analisa menggunakan

tweetreach.com, tagar tersebut menjangkau hingga 15.000 akun.



Inilah perlawanan dari peluru berkaliber 140 karakter: menyebar

seperti virus, sinis, nyelekit, lucu, menggemaskan, tapi damai.

@SBYudhoyono harus siap dengan demonstrasi senyap ini. Adakah

jawaban? (Amir Sodikin)

Senin, 04 Maret 2013

Media Sosial: Anas Vs Demokrat

Di atas kertas, lengsernya Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai

Demokrat setelah ditetapkan menjadi tersangka oleh Komisi

Pemberantasan Korupsi merupakan angin kemenangan bagi Susilo Bambang

Yudhoyono dan Partai Demokrat. Namun, sesuai prediksi banyak pihak,

Anas pasti tidak tinggal diam.





Respons warga pengguna internet (netizen) terhadap perlawanan Anas di

media sosial ternyata beragam. Puncak amplifikasi berita Anas di

berbagai kanal media sosial terjadi saat KPK mengumumkan namanya

sebagai tersangka. Sekurangnya, di hari itu, mesin analisa media

sosial milik Topsy, merekam 151.248 perkacapan terkait Anas.





Sementara, mesin analisa milik PoliticaWave mencatat dominasi Partai

Demokrat dalam percakapan di berbagai kanal media sosial sebagai

dampak polemik yang terjadi antara Anas dengan Demokrat. Namun,

Direktur PoliticaWave, Yose Rizal, memberi peringatan penting terkait

dominasi tersebut.





Perlawanan Anas ternyata telah membuahkan hasil dengan memberikan

sentimen negatif pada kredibilitas Partai Demokrat dan sekaligus

serangan terhadap keluarga SBY. Jika tujuan Anas adalah untuk

menurunkan citra Demokrat, maka tujuan itu kini sudah berhasil.





"Jumlah pembicaraan mengenai Demokrat mencapai 48,5 persen dari total

pembicaraan tentang partai politik. Sayangnya mayoritas pembicaraan

netizen memiliki nuansa negatif, sehingga menyebabkan sentimen

Demokrat di mata netizen sangat negatif dengan poin -22,42," kata

Yose.





Salah satu keahlian mesin analisa PoliticaWave adalah mampu memetakan

sentimen dari seluruh pembicaraan di berbagai kanal media sosial,

seperti di Twitter, Facebook, Youtube, blog, forum, dan media online.

Mesin analisa telah disesuaikan dengan format bahasa Indonesia

sehingga semua bahasa dan kode ekspresi netizen bisa dipetakan.





Serangan balik Anas dengan menyatakan ada keterlibatan Sekretaris

Jenderal Partai Demokrat yang juga merupakan anak SBY, yaitu Edhie

Baskoro (Ibas), dalam kasus Hambalang, tampak efektis memuku balik.

Anas juga berencana membeberkan kecurangan yang dilakukan SBY saat

Pemilu 2009 serta keterkaitan Partai Demokrat pada kasus Century.





"Berdasarkan hasil pemantauan PoliticaWave, banyak netizen yang

mendukung upaya Anas. Salah satu bentuk dukungan terlihat dari

banyaknya netizen yang mempublikasikan tautan-tautan berita, seperti

sindiran Anas yang mengatakan Presiden tidak boleh mengeluh," kata

Yose. Bentuk dukungan lainnya dengan menyatakan upaya Anas untuk

mengungkap "kebobrokan" adalah hal yang benar dan patut didukung.





Mundurnya Anas sebagai ketua umum dianggap akan menurunkan

elektabilitas Partai Demokrat. Padahal, Anas adalah figur yang menurut

pendukungnya cocok dicalonkan sebagai Capres. "Beberapa netizen juga

merasa terkesima dengan pidato pengunduran diri Anas dan wawancara

eksklusif dirinya di sebuah stasiun televisi swasta," kata Yose.





Meskipun Anas tampak berhasil di media sosial, namun Anas tetap

memanen sentimen negatif. "Sebagian besar netizen mempertanyakan

sumpah Anas yang belum juga dilaksanakan, yaitu siap digantung di

Monas bila dirinya terlibat kasus korupsi," kata Yose.





Strategi melawan



Perlawanan Anas dimulai dengan cara cara menyindir. Di berbagai kanal

media sosial, perlawanan setelah 22 Februari mulai bersifat frontal.

Dari analisa Kompas dengan mesin Topsy, fluktuasi percakapan terkait

Anas tampak stabil hingga 3 Maret 2013.





Perlu dicatat juga, cara-cara melawan dengan menyindir seperti yang

tampak dalam status BlackBerry Anas, misalnya "Politik Para Sengkuni",

"Ojo Dumeh", dan "Nabok Nyilih Tangan", "Adigang, Adigung, Adiguno",

ternyata tak populer di mata netizen. Frase "Politik Para Sengkuni",

misalnya, hanya dibicarakan 463 kali menurut data Topsy. Sedangkan

frasa "Adigang, Adigung, Adiguno" hanya dibicarakan 49 kali.





Istilah dalam kisah Mahabarata dan retorika Bahasa Jawa ternyata

penetrasinya terbatas dan membuat perlawanan Anas tak mendapatkan

amplifikasi berarti dari netizen. Jika menginginkan perlawanan

efektir, pola ini harus diubah Anas dengan komunikasi yang lebih mudah

dipahami.





Sehari setelah pengumuman KPK, Anas mencoba melakukan perlawanan yang

terekam dengan tiga berita utama yaitu: "Anas Adalah Bayi yang Tak

Diharapkan", "Ini Bukan Akhir, Tapi Halaman Pertama", dan "Saya Akan

Ikuti Proses Hukum". Ketiga berita utama tersebut kesemuanya disimak

oleh warga pengguna internet (netizen) dengan seksama.





Hasilnya, Anas tetap menjadi pembicaraan di kalangan netizen namun

dengan nuansa berita versi Anas. Walaupun netizen tertarik dengan

manuver Anas, sentimen tetap terbelah dengan cenderung ke sentimen

negatif.





"Udah ketahuan korup, (baru) bilang begitu," kata pengguna akun

zalcrut. Akun syadiin juga menyumbang sentimen negatif, "Giliran kena

kasus baru merasa dizolimi, payah."





Soal janji Anas untuk mentaati proses hukum, terdengar kesatria, namun

ternyata dominan direspons negatif oleh netizen. "Jangan lupa janji

gantung di Monas ya Om Anas," kata akun noviantypoo.





Dari analisa menggunakan Mentionmapp, para kolega dekat Anas yang

memiliki pengaruh di media sosial, ternyata tak banyak membantu

mendongkrak sentimen positif Anas. Akun Twitter pbhmi dan infohmi,

yang tampak memberi sumbangan positif untuk Anas, tak mampu berbuat

banyak melawan banjirnya sentimen negatif.





Anas sendiri tak banyak bergerak di media sosial. Percakapan akun

Twitter anasurbaningrum hanya terkait dengan beberapa akun penting

seperti ferrymbaldan (Ferry Mursyidan Baldan), saididu (Muhammad Said

Didu), ramadhanpohan1 (Ramadhan Pohan), dan edihafidl (Gus Ed).

Setelah diteliti, beberapa pembicaraan mereka tak cukup berarti karena

yang mereka bicarakan ternyata tentang sepak bola.





Interaksi pribadi Anas di jejaring sosial tersebut seperti menepis

anggapan bahwa ritme hidup Anas masih seperti biasanya. Suka sepak

bola, kuliner, dan pembaca Mahabarata. Jika benar ritme hidup Anas

normal-normal saja, maka cukup sudah pemberitaan terkait Anas vs

Demokrat karena netizen sudah bosan dengan berita itu-itu saja. (Amir

Sodikin)

Senin, 25 Februari 2013

Pelajaran dari Perang “Medsos” Pilgub Jabar

Hasil Pemilihan Gubernur Jawa Barat memang belum resmi diumumkan oleh

Komisi Pemilihan Umum Jabar. Namun, berbagai survei perhitungan cepat

memprediksikan pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar unggul dalam

pertarungan tersebut.





Bagi warga pengguna internet (netizen), pertarungan antarkandidat

sudah terasa berbulan-bulan sebelum hari H pencoblosan. Pertarungan

sengit antarkandidiat dalam Pilgub Jabar terekam juga dalam media

sosial (medsos) karena tiap kandidat ternyata kini memiliki "pasukan"

juga yang berusaha kampanye di berbagai kanal media sosial.





Hasil akhir setelah pencobloson yang dilakukan pada Minggu (24/2)

kemarin, terungkap pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar unggul di

media sosial mengungguli pasangan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki

dan Dede Yusuf-Lex Laksamana.





Analis media sosial yang juga Direktur PoliticaWave, Yose Rizal, dan

pakar komunikasi politik Effendi Gazali, di Jakarta, Senin (25/2),

sama-sama sependapat bahwa pertarungan di Pilgub Jabar terpengaruh

juga dengan percakapan di media sosial.





Mereka menyoroti kekalahan sementara pasangan Rieke-Teten akibat

beberapa manuver yang dianggap kontraproduktif di mata pengguna media

sosoal. Kesimpulan mereka adalah bahwa pertarungan Pilgub Jabar telah

memberi pelajaran penting bahwa orisinalitas dan kreativitas di dunia

politik sangat penting dan menentukan.





Jika Anda tak orisinal dan tak kreatif, maka sentimen negatif lah yang

akan dipanen. Bahayanya, di Indonesia, percakapan di media sosial itu

kemudian diduplikasi ke kehidupan nyata sehingga sentimen negatif bisa

ditularkan.





Kesimpulan tersebut menyoroti sentimen yang teramat negatif dan

tiba-tiba dalam sepekan terakhir yang menimpa pasangan Rieke-Teten,

padahal pada tiga pekan sebelumnya mereka berada di puncak

pertarungan. Tiga pekan lalu, Aher-Deddy yang diusung Partai Keadilan

Sejahtera sempat terpuruk di level terbarah karena terimbas sentimen

negatif dari kasus Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq.





Perangkat lunak PoliticaWave selama berbulan-bulan telah memantau

percapakan warga pengguna internet (netizen) di Jawa Barat dari

berbagai kanal media sosial seperti Twitter, Facebook, Forum, Blog,

Youtube, dan situs-situs berita untuk menganalisa respons netizen

terhadap para kandidat.





Menurut Direktur PoliticaWave, Yose Rizal, sejak semula ada tiga

pasangan yang terekam bertarung sengit yaitu Aher-Deddy, Dede-Lex, dan

Rieke-Teten. Di akhir kompetisi, Aher-Deddy unggul pada total jumlah

percakapan dengan prosentase 35,9%. Untuk total jumlah pengguna

(netizen), pasangan Dede-Lex memimpin dengan prosentase 31,9%.

Sedangkan Rieke-Teten di posisi ketiga di semua kategori dengan

selisih yang tipis.





Terungkap pula, menjelang pencoblosan, elektabilitas kandidat

Aher-Deddy dan Dede-Lex masuk ke dalam kategori positif di media

sosial. Aher-Deddy memimpin dengan poin 8,08 dan Dede-Lex dengan poin

0,68. Sedangkan Rieke-Teten terkena sentimen negatif dengan poin

-15,12.





PoliticaWave mencatat, kondisi tersebut terkait dengan tidak

bekerjanya "efek Jokowi". Joko Widodo adalah seorang figur yang

memiliki popularitas dan citra positif di media sosial. Namun ternyata

tidak semua hal yang berkaitan dengan Jokowi memberikan hal yang

positif.





"Upaya Rieke-Teten membawa Joko Widodo sebagai juru kampanye mendapat

respon negatif dan positif secara bersamaan. Hal ini dikarenakan

Rieke-Teten dianggap menjiplak dan semakin diperburuk dengan

pernyataan Rieke yaitu tidak malu menjiplak Jokowi," papar Yose.





Mengacu dari analisa tersebut, PoliticaWave menyimpulkan pasangan

Aher-Deddy memenangkan pertarungan Pilgub Jabar ini. Kemenangan

Aher-Deddy ini didukung pada dominasi percakapan baik dari segi jumlah

percakapan maupun jumlah pengguna uniknya.





Imbas media sosial



Effendi Gazali mengungkapkan, Pilkada Jabar terimnas juga dengan

percakapan di media sosial karena kebiasaan di Indonesia adalah

membawa apa yang terjadi di media sosial ke media offline. Karena itu,

jika di media sosial ada sentimen negatif, maka sentimen negatif itu

bisa ditularkan di dunia nyata. "Di Indonesia, apa yang ia ketahui di

media sosial akan diduplikasi di media konvensional, misalnya dengan

SMS atau percakapan langsung," katanya.





Di media sosial sangat sensitif dengan sinisme. Karena itu,

gonjang-ganjing pada Partai Demokrat dan PKS akan berpengaruh juga

pada sentimen negatif pada pasangan yang bertarung di Jawa Barat.

Tapi, mengapa akhirnya yang terimbas negatif pasanga Rieke-Teten yang

diusung PDI-P?





"Dalam komunikasi politik, itu terkait dengan recall atau memori yang

pendek dari calon pemilih," kata Effendi. Saat itu, yang baru terjadi

adalah Jokowi yang merupakan sosok yang diduplikasi Rieke-Teten datang

berkampanye dan menjadi perbincangan di media sosial.





"Sejak awal, penggunaan simbol baju kotak-kotak yang berlebihan itu

menjadi tidak pas karena terkesan menjiplak, akhirnya di media sosial

muncul sinisme. Hal itu terjadi karena di media sosial kreativitas dan

orisinalitas itu hal penting," papar Effendi.





Orisinalitas berpolitik tetap menjadi nomor satu di media sosial.

Semakin orisinal semakin bagus. "Di Sulawesi Selatan menjiplak Jokowi

terbukti gagal dan di Jawa Barat walaupun mampu meningkatkan suara

namun belum sesuai harapan," kata Effendi.





Langkah berhasil



Manusia daya ingatnya memang terbatas. Peristiwa tiga pekan lalu bisa

dilupakan oleh pendukung PKS di Jawa Barat. "Langkah yang diambil

Aher, dengan tidak menggunakan simbol-simbol PKS terlalu kental,

ternyata berhasil melokalisir dampak negatif," jelas Effendi.





Sebaliknya, peristiwa yang terjadi beberapa hari sebelumnya yang

terkait Partai Demokrat, dan diputar berulang-ulang di televisi,

langsung berdampak pada sentimen negatif pada calon dari Partai

Demokrat yaitu Dede-Lex. "Dede-Lex tak mengubah pola kampanye karena

di beberapa tempat simbol-simbol Partai Demokrat masih kental terlihat

padahal saat itu sedang ada prahara besar di dalam Demokrat," kata

Effendi.





Ingatan yang sangat terbatas ini sangat berlaku dalam ilmu komunikasi

politik. Karena itu, di Amerika Serikat, yang paling menentukan adalah

hasil debat terakhir menjelang pemungutan suara. (Amir Sodikin)

Sabtu, 16 Februari 2013

SBY Vs Anas, Biarlah Tuhan yang Mengurus Negara

Apa sebenarnya perkataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang

berkesan di hati warga pengguna internet (netizen) dalam dua pekan

terakhir? Apakah persoalan bangsa, terkait kemiskinan? Atau soal

pendidikan, olahraga, korupsi? Ternyata tidak.





Selama dua pekan, tak ada kerja terkait persoalan bangsa yang

dikaitkan dengan Presiden SBY. SBY di sosial media, tempat orang-orang

dengan bebas mencurahkan pendapatnya tanpa ditanya, secara signifikan

hanya disebut jika terkait kegiatan Partai Demokrat.





Grafik yang ditunjukkan oleh perangkat lunak berbasis web, Topsy,

menyebutkan dalam dua pekan terakhir yang paling banyak dibicarakan di

sosial media terkait SBY adalah berita "SBY Ambil Alih Kendali Partai

Demokrat" pada 8 Februari lalu.





Lalu lintas berita di sosial media terkait SBY hari itu mencapai

100.132 kali. Bahkan, berita ini yang paling menyita perhatian selama

satu bulan terakhir terkait SBY.





Grafik percakapan terkait SBY dalam dua pekan terakhir ini membentuk

kerucut, puncak kerucut adalah saat SBY berpidato untuk mengambil alih

Demokrat. Sedangkan di sisi kiri, permulaan kerucut dimulai dengan

berita heboh dari Jakarta Post pada 1 Februari berjudul "First family

tax returns raises flags".





Tautan berita di situs Jakarta Post tersebut beredar di kalangan

pengguna Twitter hingga 1.202 kali. Ditambah dengan percakapan di

media sosial yang dipicu pemberitaan media lain, hari itu percakapan

terkait SBY mencapai 5.795 kali. Inilah awal mula para netizen mulai

membicarakan SBY, yang akhirnya berita heboh ini terkubur oleh pidato

penyelamatan Demokrat oleh Presiden.





Karena itu, netizen sejak awal sudah menengarai akan ada pengalihan

isu. "Harusnya berita ini yang meledak hari ini," kata pemilik akun

Twitter dr_piprim sambil menaruh tautan berita soal pajak keluarga

SBY.





Penguna akun Twitter edy_khemod termasuk orang yang pertama berbagi

tautan dari Jakarta Post tersebut. "Konon artikel pajak SBY ini yang

bikin Jakarta Post hilang dari peredaran pagi ini dan websitenya

sempat down," kata edy_khemod.





SBY vs Anas



Dari tanggal 1 Februari hingga 8 Februari, pemberitaan terkait SBY,

Partai Demokrat, dan Anas Urbaningrum kejar-kejaran dan saling

berkaitan. Di hari itu, berita yang menyita perhatian adalah terkait

"Demokrat di Daerah Desak SBY Selamatkan Partai", "SBY Minta KPK

Segera Tuntaskan Kasus Anas Urbaningrum", "Tuntutan KLB Kian Deras,

SBY Kirim SMS dari Mekkah".





Berita-berita itu seolah menkonsolidasi "perang" terbuka SBY vs Anas

di media sosial. Mesin analisis sosial media yang dimiliki

Politicawave pun memantau pertarungan ini sejak tanggal 1 Februari

hingga 14 Februai. Menurut data dari dapur analisis Politicawave, isu

Partai Demokrat di media sosial menyangkut Anas Urbaningrum dan SBY

mencapai 108.530 percakapan dengan pengguna unik yang terlibat

sebanyak 36.840.





Direktur Politicawave, Yose Rizal, mengatakan, di media sosial SBY

memang mendominasi dibanding Anas dengan perbanding 43 persen untuk

SBY, 39 persen untuk Anas Urbaningrum, dan 18 persen gabungan Anas dan

SBY.





Namun, sentimen negatif di media sosial lebih tertuju pada SBY.

"Ternyata tindakan yang dilakukan oleh SBY mendapatkan respon yang

kurang baik di media sosial. Banyak netizen yang menganggap upaya yang

dilakukan SBY ini seolah memperlihatkan SBY sebagai sosok yang

diktator karena mencoba mengambil alih kekuasaan di Partai Demokrat,"

papar Yose.





Selain itu, kata Yose, muncul opini yang menyatakan SBY lebih

mementingkan kepentingan Partai Demokrat dibandingkan kepentingan

rakyat Indonesia karena terus menerus berdoa agar Partai Demokrat

dibebaskan dari berbagai cobaan berat. Beberapa celotehan pengguna

media sosial pun memang mempersepsikan negatif langkah SBY tersebut.





"Urus partaimu saja, biarlah Tuhan yang mengurus negara," kata Badri

Ahmad, pemiluk akun Twitter indiejiens. Komentar Badri tersebut

dilengkapi dengan tautan berita di sebuah media berjudul "Perang

Terbuka Anas vs Cikeas, Siapa Menang".





Namun, kata Yose, ada juga beberapa netizen yang setuju dengan upaya

penyelamatan yang dilakukan SBY. Mereka menganggap upaya SBY

tersebut termasuk hal yang wajar. Bentuk dukungan SBY dilakukand engan

me-retweet opini tokoh-tokoh yang mendukung pernyataan tersebut,

seperti Taufik Kiemas dan Anies Baswedan.





Sebaliknya, citra Anas dengan adanya "perang" ini cenderung netral di

mata netizen. Padahal, sebelumnya Anas menjadi bulan-bulanan di media

sosial karena ada tanda-tanda KPK bakal segera menetapkan Anas sebaga

tersangka terkait kasus Hambalang.

"Dengan "perang" terhadap SBY ini, Anas dipersepsikan sebagai pemimpin

yang bagus karena lebih mendekatkan diri dengan akar rumput dan para

kader Demokrat dibandingkan dengan SBY yang membentuk koalisi dengan

elite Partai Demokrat," kata Yose.





Pendekatan yang dilakukan Anas antara lain dengan bercerita kepada

kader-kader Demokrat mengenai loyalitas sahabat Nabi Muhammad SAW.

Publik di media sosial juga memiliki persepsi, apabila Anas lengser

dari jabatannya maka dapat menghancurkan citra Partai Demokrat ke

depannya.





"Beberapa contoh opini yang terkesan mendukung Anas adalah dari

banyaknya netizen yang mempublikasikan berita yang menyatakan Anas

menandatangani pakta integritas, serta ikut menuliskan Ojo Dumeh di

statusnya," papar Yose.





Setelah publik di media sosial menyatakan ketidaksukaannya pada gaya

diktator SBY, kembali keluarga SBY terimbas persepsi negatif dengan

munculnya beberapa berita terkait Edhie Baskoro atau Ibas. Diantaranya

berita Ibas yang langsung pergi meninggalkan Gedung DPR setelah

menandatangani prensensi, itupun presensinya diantar oleh seorang

petugas.





Beragam komentar pun muncul menanggapi perilaku bolos kerja anak SBY

tersebut. "Ciee gaye anak yang punya negara," komentar pemilik akun

Twitter Sundaningsih. "Kebiasaan sejak sekolah kali," kata megimargi.

"Kuliahnya pasti titip absen nih," sambar gadlimbongst.





Pemberitaan terkait Ibas mulai mereda setelah ditutup kabar Ibas

mundur dari anggota DPR. Kini, publik masih terus menunggu akhir dari

perselisihan Ibas vs SBY. Jika perselisihan terus berlanjut, maka tak

berlebihan jika netizen mengatakan urusan negara ini biarlah Tuhan

yang mengelolanya.

(Amir Sodikin)

Selasa, 05 Februari 2013

Teori Konspirasi Akan Kontraproduktif Bagi PKS

Publik yang melek politik dan hukum saat ini sudah tak bisa dianggap

menerima saja setiap informasi atau penjelasan yang diberikan

politikus Partai Keadilan Sejahtera dalam menjelaskan kasus dugaan

suap kuota impor daging. Di sisi lain, para politisi di PKS yang masih

suka bermain dengan teori konspirasi justru memperburuk citra partai.



Di media sosial, tempat kita dengan mudah menemukan ribuan komentar

dari para pengguna yang tanpa ditanya, teori konspirasi justru jadi

olok-olok tiada habisnya yang membuat sentimen negatif terhadap PKS

terus meningkat. "Konspirasi Yahudi ya ? Bhahaha dasar PKS," begitu

pengguna akun rizkalovable berkomentar.



"Musuh imajiner selalu efektif untuk orang-orang bodoh," kata pemiluk

akun tiariaji. Teori konspirasi ini di sebuah situs web bahkan

dianggap sebagai lelucon paling tidak lucu tahun ini.



Ada juga di sebuah forum yang sampai bertaruh dan menargetkan jumlah

komentar minimal 1.500 komentar hanya dalam satu malam. Semua komentar

bernada olok-olok terhadap teori konspirasi PKS. "Jangan patah

semangat, ayo terus comment. Malam ini harus nyampe 1.500," kata

pengguna akun Dodool.



Pakar komunikasi politik Effendi Gazali mengatakan pemilihan teori

konspirasi untuk menjelaskan perkara yang sedang dihadapi PKS

benar-benar sedang tidak tepat. "Konspirasi itu kalau semua yang

terlibat, misalnya yang menerima uang, itu sama sekali berasal dari

luar partai semua, misalnya orang asing yang disusupkan, itu baru

konspirasi." katanya.



Tapi, jika orang-orang itu masih berhubungan dengan lingkaran dalam

partai, misalnya bernah bertemu atau telepon, maka jelas bukan

konspirasi.

Karena teori konspirasi tak terjadi secara nyata, apalagi sampai

menyeret konspirasi Amerika Serikat bahkan Zionis, ini justru akan

menjadi pukulan bagi PKS. "Justru akan bersifat kontraproduktif bagi

PKS," katanya.



Pidato Presiden PKS yang baru, Anis Matta, juga tak akan mampu

menyembuhkan luka yang sudah ada karena sore hariny ketika

dikonfirmasi soal otoritas yang dikritik tidak bisa ditunjukkan dengan

jelas. Silat lidah yang dilakukan PKS seharusnya disudahi dan lebih

baik fokus menyerahkan perkara dugaan korupsi ini ke penegak hukum.



Dengan cara seperti itu, kata Effendi, PKS akan lebih cepat diperbaiki

daripada hanya memutar-mutar logika yang sudah tak bisa diterima akal

sehat. "Jauh lebih penting untuk membangun daya tahan internal partai

dalam menghadapi realitas yang ada daripada mengungkapkan terori

konspirasi," katanya. (AMR)

Sabtu, 02 Februari 2013

PKS Diterpa "Tsunami" di Media Sosial

Partai Keadilan Sejahtera langsung terpuruk dibanding partai lain

dalam hal mendapat sentimen negatif dari warga pengguna internet

(netizen). Tampak terlihat bahwa isu suap impor daging yang menimpa

mantan Presiden PKS langsung menjadi tsunami besar bagi citra bersih

PKS.



Pantauan dengan menggunakan model perangkat lunak Politicawave, hingga

Jumat (1/2) malam, terlihat bahwa indeks sentimen negatif untuk PKS

mencapai -9,24 yang berasal dari analisa percakapan 44.044 pengguna

unik. Indeks sentimen setiap partai dihitung dari perbandingan jumlah

sentimen positif atau negatif yang diperoleh tiap partai, kemudian

dibagi dengan total jumlah sentimen positif atau negatif dari semua

partai.



Posisi agak bagus namun masih di zona negatif adalah Partai Demokrat

dengan indeks sentimen negatif mencapai -4,95 dari analisa percakapan

10.688 pengguna unik.



Percakapan tersebut direkam dari semua media sosial seperti Twitter,

Facebook, blog, forum-forum, Youtube, dan berbagai situ berita di

Indonesia. Analisa dilakukan berdasarkan percakapan real time dan bisa

berubah setiap saat.



Di zona sentimen positif, bertengger PDI-P dengan sentimen positif

3,74 namun dengan jumlah pengguna unik hanya 5.113. Kemudian Partai

Nasional Demokrat (Nasdem) dengan indeks sentimen positif 3,4 dari

analisa 16.042 pengguna unik.



Dari segi jumlah orang yang memperbincangkan, jelas PKS nomor satu

dengan total pengguna akun yang terlibat mencapai 44.044 pengguna.

Angka ini mencapai 44,3 persen dari total pengguna yang terlibat dalam

pembicaraan. Jumlah percapakan yang terekam hingga Jumat (1/2) malam

untuk PKS saja mencapai 138.665 percakapan yang merupakan 55,9 persen

dari total percapakan soal partai.



Direktur Politicawave Yose Rizal mengatakan, hingga 3-4 hari lalu,

Nasdem dan Golkar sebenarnya masih berada di zona negatif. Hal itu

terjadi karena pemberitaan sedang fokus pada banyaknya kader Nasdem

yang keluar dari partai.



"Golkar juga terimbas negatif pada 3-4 hari lalu karena banyak kasus

korupsi yang melibatkan kader-kadernya serta adanya konflik internal,"

kata Yose. Namun, begitu kasus dugaan suap daging impor menyeruak,

sentimen negatif untuk PKS luar biasa besarnya. "Seperti tsunami,

dahysat karena yang terlibat diduga Presiden PKS," kata Yose.



Pembicaraan di sosial media akhirnya mengarah ke PKS dan kasus-kasus

yang melanda partai lain seperti kasus Hambalang pada Partai Demokrat,

banyaknya kader yang hengkang dari Nasdem, serta korupsi yang

melibatkan kader Golkar, terlupakan oleh isu baru. "Akhirnya,

parpol-parpol lain perbandingan negatifnya jadi mengecil," kata Yose.



PDI-P yang kebetulan tak memiliki banyak isu, mendapat "durian runtuh"

dari limpahan sentimen positif ini. Walaupun PKS berusaha

merevitalisasi semangat kepartaian melalui pidato Presiden PKS yang

baru, Anis Matta, namun belum mampu mengatrol perolehan sentimen

positif.



Pekan ini sebenarnya ada kasus korupsi yang masuk Pengadilan Tindak

Pidanan Korupsi Jakarta, yang melibatkan anggota DPR yang juga

politisi Golkar, Zulkarnaen Djabar. Namun ternyata isu itu tak

berdampak besar pada sentimen negatif Golkar.



"Isu Zulkarnaen Djabar tak banyak dibicarakan di media sosial. Apalagi

dalam dua pekan terakhir ini isunya lebih didominasi keluarnya Hary

Tanoesoedibjo dari Nasdem," kata Yose.



Pilkada Jabar

Hal yang mengejutkan, pengguna media sosial ternyata mengaitkan

penangkapan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq dengan Pemilihan

Kepala Daerah di Jawa Barat. Pasangan Aher-Deddy (Ahmad Heryawan-Deddy

Mizwar) yang biasanya memimpin, langsung terpuruk ke posisi terendah

dibanding pasangan lain dengan indeks sentimen negatif mencapai -37,77

dari analisa percakapan 4.015 pengguna unik.



"Isu PKS di nasional ternyata berpengaruh pada Pilkada Jabar.

Aher-Deddy dianggap sebagai bagian dari partai yang korupsi. Feedback

negatif ke mereka jauh lebih besar dari parpol lain karena selama ini

tagline PKS adalah Bersih," papar Yose.



Dari gonjang-ganjing isu yang memanas ini, berimbas limpahan sentimen

positif pada pasangan Rieke-Teten (Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki)

yang memperoleh indeks sentimen positif 22,33 dari analisa percakapan

1.622 pengguna unik.



Namun demikian, Aher-Deddy tetap mendominasi dalam percakapan di

sosial media yang mencapai 52,3 persen dari total percakapan.

Terungkap pula, kubu PKS tak tinggal diam mensikapi isu dugaan suap

daging impor ini.



Terekam upaya yang sangat gigih dari akun Twitter pkskotacirebon yang

berusaha mengadvokasi apa yang terjadi di dunia maya saat ini. Tak ada

akun lain di sosial media yang bisa mengalahkan kegigihan

pkskotacirebon dalam upaya mengkampanyekan citra positif PKS.



Hinggga Jumat tadi malam, akun pkskotacirebon adalah "panglima

tertinggi" yang telah menyumbangkan sentimen positif sebanyak 1.070

percakapan untuk Aher-Deddy, dan 388 sentimen positif untuk PKS. Dalam

praktik kampanye sosial media, upaya akun pkskotacirebon adalah sah

dan menunjukkan mesin politik PKS Kota Cirebon bekerja dengan baik di

sosial media. (Amir Sodikin)

Selasa, 22 Januari 2013

Mimpi Netizen dalam Revolusi Perubahan Sosial

Diantara gegap gempita untuk menambang keuntungan dari berbagai

aktivitas bisnis di dunia internet, Sabtu (19/1) lalu sebuah kelompok

warga internet (netizen) berduyun-duyun ke Gedung Energy, Jakarta,

untuk membicarakan soal gerakan sosial. Kegiatan itu diberi tajuk

Digital Nation Movement (Dinamo) 2013.



Tampil pertama menyapa peserta adalah orator lapangan ulung Usman

Hamid. Usman yang biasa membakar semangat demonstran soal hak azasi

manusia atau soal antikorupsi di mimbar demonstran yang terik panas,

kini menguasai panggung adem di hadapan anak-anak muda yang

bergelimpangan dengan tablet dan telepon pintar.



Usman adalah aktifis gerakan sosial yang real di dunia nyata dan saat

bersamaan ia juga gencar menjadi corong aktivis gerakan dunia maya,

tepatnya Direktur Kampanye Change.org Indonesia. Ia dikenal memiliki

jaringan luas untuk menghubungkan para aktivis dunia nyata di dunia

maya, mulai dari jaringan di Twitter hingga di Change.org.



Change.org adalah sebuah situs global yang menawarkan platform petisi

online. Siapapun bisa membuat petisi dan mencari pendukungnya agar

bisa tercapi jumlah penandatangan petisi.



Tak hanya di dunia nyata, provokasi ala demonstran di mimbar netizen

berhasil dilakukan Usman. Usman mengistilahkan, Change.org adalah

website globaluntuk memberdayakan orang dalam ikut serta setiap

perubahab sosial yang diinginkan.



Ia mencontohkan keberhasilan petisi online melalui change.org. Hasna

Pradityas, misalnya memulai petisi untuk memprotes jalan rusak di

Jalan Raya Muncul, Kota Tangerang Selatan yang masuk wilayah kekuasaan

Walikota Airin Rachmi dan Gubernur Atut Chosiyah.



Setelah tiga bulan sejak petisi dimulai, jalan mulai diperbaiki dan

layak dilewati. Terkumpul 221 tanda tangan yang masuk melalui email ke

Walikota Airin dan Gubernur Atut. "Kami mendapat konfirmasi bahwa

Walikota menerima banyak email dan membahas petisi di kantornya," kata

Usman.



Kemenangan petisi lainnya misalnya soal sirip ikan hiu yang akhirnya

dilarang diperjual belikan di restoran Bandara Soekarno Hatta.



PT Angkasa Pura memutuskan melarang penjualan sirip hiu di Bandara

Soekarno Hatta sejak 23 September 2012 sebagai respons dari petisi

yang dibuat warga Singapura, Glenton Jelbert.



Jelbert sedih melihat sirip hiu dijual di bandara internasional.

Padahal keindahan hiu di laut Indonesia adalah aset yang tak bernilai

harganya.



Usman mengatakan, gerakan seperti Change.org merupakan

persimpanganantara media sosial dan perubahan sosial. Menurut Usman,

gerakan ini merupakan gerakan tentang kita semua, tentang kelompok dan

komunitas untuk mendukung perubahan.



Change.org sebagai wadah para pendamba perubahan berkembang pesat

secara global. Sejak sembilan bulan lalu ketika diluncurkan di

Indonesia, jumlah anggota di Indoneisa mulai 8.000 anggota dan dalam

sembilan bulan kini sudah mencapai 140.000 anggota. Belum lagi jumlah

anggota secara global.



Di statistik change.org, wadah petisi online ini telah menjangkau 196

negara dengan total tanda tangan petisi mencapai 128,8 juta tanda

tangan dengan ribuan kemenangan telah dicapai para netizen di seluruh

dunia. "Ini bukan karena Change.org, melainkan karena kalian lah

dinamo-dinamo perubahan yang menginginkan setiap perubahan," kata

Usman.



Setiap kemenangan di Change.org adalah potensi terbukanya demokrasi

partisipatoris. Demokrasi yang bukan disitir oleh penguasa dan

segelintir elit politik, melainkan demokrasi yang diinginkan oleh

warganya.



Indonesia adalah salah satu pengguna media sosial terbesar di jagat

raya ini sehingga bukan hal berlebihan jika para aktivis dunia nyata

berharap pada platfomr media sosial. Maka, acara yang dianggap sekadar

lifestyle para netizen itu ternyata didukung institusi serius seperti

Institut Kebajikan Publik, Indonesian Future Leaders, Leaf-Plus,

Kontras, dan Indonesia Corruption Watch.



Direktur Komunikasi Change.org Indonesia, Arief Azis mengatakan ketika

mendengar Change.org masuk Indonesia, itu merupakan timing yang tepat

karena Indonesia dikenal sebagai bangsa digital. "Selalu saja

menduduki peringkat 5 besar dalam jumlah anggota di berbagi situs

media sosial," katanya.



Bukan hal yang mengada-ada jika harapan ke depan untuk mengawal setiap

perubahan sosial nantinya akan berawal dari media sosoal. Kita punya

sejarah people power yang panjang dan di saat yang sama kita punya

kekuatan suara yang begitu berlimpah di media sosial.



Kesuksesan yang diraih dalam setiap petisi online, Arief yakin, itu

merupakan sebuah puncak gunung es semata. Di dasar persoalan yang

sebenarnya, masih tertimbun masalah besar yang sama dan belum

tersentuh untuk diselesaikan.



Karena itu, kolaborasi aktivis perubahan sosial dengan kampanye media

sosial merupakan sebuah keniscayaan zaman yang harus dilewati. Sineas

Indonesai ternama, Mira Lesmana yang hadir sebagai pembicara, ternyata

juga mengandalkan media sosial untuk menggarap film "Atambua 39

Derajat Celsius".



Film itu menyorot persoalan di Atambua yang sudah terlupakan kita

semua. "Untuk film seperti ini, awalnya saya kesulitan mencari dana.

Dalam setiap film saya merasa bertanggung jawab untuk mengingatkan

yang terlupakan," kata Mira.



Ia kemudian memasukkan proyek film tersebut di situs Wujudkan.com

untuk mendengarkan pengunjung apakah film itu layak dibuat atau tidak,

sambil mencari dukungan dana dari para netizen. Akhirnya, di luar

dugaan, dana terkumpul hingga Rp 319 juta dan jumlah itu sudah

mencapai 30 persen dari total pendanaan.



Maka, dalam setiap ide perubahan yang awalnya terasa berat dilakukan,

atau bahkan mustahil dikerjakan, ternyata ketika dilontarkan ke para

netizen, peruabahan yang didambakan itu bisa diwujudkan. Mari lakukan

perubahan, jangan takut bermimpi untuk membuat revolusi kembali. (Amir

Sodikin)