Tampilkan postingan dengan label Kontras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontras. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Mei 2013

KontraS Publikasikan Foto-foto "Perbudakan" di Tangerang

Seperti diberitakan sebelumnya, aparat kepolisian yang mendapat

laporan warga yang didampingi KontraS, telah mengungkap dugaan

perbudakan atau kerja paksa di Tangerang. Banyak orang tak percaya

bahwa di era modern masih saja terjadi kerja paksa.



KontraS akhirnua mengirim tiga foto terkait pengungkapan "perbudakan" atau

pekerja paksa di pabrik kwali di Tangerang.



Foto pertama menggambarkan para pekerja di samping pemilik rumah bos

pabrik kwali.

Foto kedua menggambarkan para pekerja di sekitar lokasi kerja di luar ruangan.

Foto ketiga menggambarkan tempat tinggal para pekerja.



Foto-foto merupakan dokumentasi KontraS.

Perbudakan Pabrik Kwali: 28 Orang Dipekerjakan Paksa di Tangerang

Laporan langsung mengenai penggrebekan di pabrik kwali di Tangerang

melalui akun Twitter @andriyani ternyata dilakukan oleh Kepala Divisi

Advokasi dan HAM Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan

(KontraS), Yati Andriyani. Dihubungi melalui teleponnya, Yati

membenarkan adanya penggrebekan perbudakan di zaman modern itu yang

dilakukan aparat kepolisian.



Hingga Sabtu dini hari, para korban sebanyak 28 orang, termasuk pelaku

dan centeng yang menjadi petugas keamanan, sedang dimintai keterangan

di Polres Tigaraksa, Tangerang. "Pemeriksaan pelaku Juki Irawan dan

centengnya masih dalam proses pemeriksaan penyidik Polda dan ditahan.

Sementara korban juga dalam proses pemberian keterangan," kata Yati.



Atas kerja cepat aparat kepolisian, KontraS menyampaikan apresiasinya

terhadap institusi kepolisian yang begitu tanggap menindaklanjuti

laporan korban sehingga kondisi dan situasi kerja paksa tersebut

terungkap dan korban lainnya dapat diselamatkan. "KontraS menghimbau

pihak kepolisian untuk terus melanjutkan proses hukum," kata Yati.





Awal terbongkarnya kasus



Menurut Yati, kasus itu terbongkar ketika KontraS menerima pengaduan

dari dua orang korban atas nama Andi (20) dan Junaedi (19) ke KontraS

pada 2 Mei 2013. "Keduanya dipekerjakan paksa di sebuah rumah yang

berlokasi di Kampung Bayur Opak, Sepatan, Tangerang, selama 2-3 bulan.

Keduanya mengaku disiksa dalam bentuk dipukul, sundut rokok dan

disiram cairan alumunium," kata Yati.



Pelapor berasal dari Lampung Utara yang didampingi Kepala Desa. Mereka

kemudian membuat laporan pengaduan ke Polda Metro Jaya, pada Jumat

kemarin. Tak lama setelah menerima pengaduan, Polda Metro Jaya

kemudian menindaklanjuti dengan melakukan penggerebekan ke lokasi

yaitu di Kampung Bayur Opak, Rt 03 Rw 06, Desa Lebak Wangi, Sepatan,

Tangerang.



"Pengerebekan dilakukan sekitar pukul 14.30-16.00 oleh tujuh anggota

Polda Metro Jaya, Polres Lampung 4, dan Polres Tigaraksa dengan jumlah

personel sekitar 20 orang. "Dari penggrebekan itu telah ditemukan 28

korban yang dipekerjakan paksa dengan kondisi memprihatinkan. Mereka

mengalami luka-luka gatal, asma, memar dan lain-lain," kata Yati.



Sebanyak empat orang dari korban tercatat berusia dibawah umur. Ada

juga lima orang yang khusus disekap dalam ruangan yang disengaja

dikunci dari luar dengan kondisi memprihatinkan.



Sepanjang proses penyekapan, para korban telah diasingkan dari

kehidupan di sekitarnya. Pelaku menyita semua barang-barang milik

korban yaitu mulai handphone, bahkan baju, juga uang. "Alasannya untuk

keamanan supaya tidak hilang," kata Yati.



Dari pantauan Yati, lokasi tempat korban dipekerjakan sangat tidak

manusiawi. Mereka tidur dalam satu ruangan berukuran sempit yaitu

hanya 40 meter x 40 meter yang dihuni sekitar 40 orang. "Kondisi

ruangan sangat tertutup, kotor, dan bau," katanya.



Dari sisi jam kerja, para korban diwajibkan bekerja sejak pukul 05.30

hingga pukul 22.00 dengan tanpa menerima gaji dan dilarang

bersosialisasi dengan lingkungan.



Yati mengungkapkan, saat ini kondisi korban masih dalam keadaan takut

dan tergoncang jiwanya, namun juga senang karena sudah bebas dari

perbudakan. Untuk memulihkan kondisi korban, kata Yati, KontraS

meminta pihak Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk

memberikan perindungan dan trauma healing bagi seluruh korban ke

depan. (Amir Sodikin)

Merinding Membaca Laporan Perbudakan Kwali di Tangerang


Di zaman modern yang katanya tinggal di negeri gemah ripah loh jinawi

dengan Pancasila sebagai dasar negara, ternyata perbudakan masih saja

terjadi. Sabtu dini hari, sebuah laporan lengkap melalui Twitter yang

disuarakan dari akun @yatiindriyani seolah memecah kesunyian dini

hari.



Timeline tersebut seolah berasal dari abad gelap masa lalu yang tak

pernah terbayangkan terjadi di era media sosial ketika semua orang

dengan mudah berkomunikasi dan mengadu. Walaupun peristiwa itu terjadi

ketika seharusnya orang-orang sudah lelap, namun banyak warga

internet atau netizen yang terbangun untuk sekadar berbagi informasi.



"TL (timeline) @yatiandriyani tentang pekerja pabrik kwali ini bikin

merinding, duh Gusti, masih ada yang kek gini," kata pemilik akun

@bundabaik.



"Geram baca TL @yatiandriyani, ternyata masih ada perbudakan di

Tangerang," begitu sambar akun @nukman.



Di profile Twitter milik @yatiandriyani, tercantum bahwa Yati

Andriyani adalah salah satu pengurus dari KontraS (Komisi untuk Orang

Hilang dan Korban Tindak Kekerasan).



Di bawah ini adalah laporan langsung dari tempat kejadian yang

disampaikan oleh @yatiandriyani.





Korban mengadu ke @KontraS krn dikerjapaksakan, dipukul, disiram timah

panas,disundut rokok disebuah pabrik, disekap.



Korban sampaikan ke @KontraS sekitar 40 korban lainya, yang juga

disekap, dianiaya, dipekerjapaksakan menunggu dibebaskan.



Lurah dari Lampung lapor ke Polda Metro, desak pembebasan korban

lainya di pabrik Kwali tersebut.



Korban turut serta dengan tim Polda Metro dan Polresta Tigaraksa

gerebek pabrik kwali di Kampung Bayur Opak, Cadas, Tangerang



Di pabrik Kwali tersebut @KontraS, Tim Polda, Polresta Tigaraksa

dapatkan 28 korban yang masih remaja, berasal dari Lampung, Cianjur,

Bandung.



Saat pengerebekan @KontraS dan Tim Polisi dapatkan 5 orang dalam ruang

penyekapan yang dikunci dari luar.



Temuan @KontraS jumlah sementara korban sekitar 36 orang. Dengan

kondisi: seluruh badan seperti terbakar legam karena efek mengolah

limbah timah.



Bawah mata cenderung hitam, badan kurus, rambut kaku, luka pukulan,

luka air timah, asma, batuk, gatal-gatal, kadas, kutu air, dan

lain-lain.



Sebanyak 28 korban semuanya tidak menggunakan baju, karena setiap

orang hanya diperkenankan memiliki satu baju saja.



Temuan @KontraS kondisi tempat kerja paksa kumuh, tertutup, panas, di

dalamnya terdapat tempat mengolah timah untuk kwali.



Temuan @KontraS korban dipekerjakan tanpa dibayar, jam kerja pkl

06.00-22.00, harus mmenuhi pembuatan kwali sehari 22, jika tidak ada

bonus penganiayaan.



Temuan @KontraS pakaian, uang dan mobilephone korban diambil oleh

pelaku, korban dilarang bersosialisasi keluar tempat kerja.



Temuan @KontraS sekitar 40 korban tidur di ruangan 40x40 meter

persegi, tanpa jendela/ventilasi, 1 WC, tertutup, bau, pengap, kotor.



Temuan @KontraS makanan yang diberikan ke korban hanya berlauk sambel

dan tempe, dengan menu yang sama hampir setiap harinya.



Temuan @KontraS korban rata-rata usia 20-an tahun, 5 diantaranya

berusia dibawah 18 tahun.



Temuan @KontraS lokasi penyekapan dan pembuatan kwali berada dalam

satu komplek dengan rumah pelaku yang megah berlantai dua.



Temuan @KontraS saat pengumpulan korban, satu diantaranya hanya

gunakan handuk kecil karena baju dan celana yg satu-satunya dimiliki

sedang dijemur.



Temuan @KontraS istri pemilik pabrik menyita 22 mobilephone milik

korban dan para centeng menyita baju dan uang.



Sebanyak 28 korban ini dibawa ke Polres Tigaraksa, Tangerang untuk

dimintai kesaksian, proses BAP masih berjalan sampai sekarag.



Temuan @KontraS para korban terbiasa mandi dengan mengunakan sabun

colek, di satu WC tanpa bak mandi yang menyatu dengan ruang

penyekapan.



Saat ini di Polresta Tigaraksa para korban tidak memiliki pakaian

ganti, makanan, uang untuk bekal.



Para korban masih ketakutan dan trauma tapi bahagia karena telah

dibebaskan dari penyekapan.



Para korban membutuhkan pakaian ganti, sandal, perlengkapan mandi,

dokter dan obat-obatan.



Para korban juga membutuhkan pendampingan psikologis untuk bebas dari

rasa takut dan belajar kembali menata masa depanya.



Para korban rindu keluarga sangat di Bandung, Cianjur, Lampung tapi

mereka tak punya bekal untuk kembali ke keluarga.



Esok kami akan bicara lagi dengan korban, bantu mereka bicara benar,

bantu mereka keluar dari rasa takut, bantu mereka berani menatap masa

depan.



Mari rentangkan tangan untuk mereka. Mereka hanya anak-anak desa yang

butuh kerja demi cintanya pada keluarga.



Miskin, bodoh tak pernah mereka inginkan. Negara yang korup, pemimpin

yang baal, politisi yang tuli, terus tumbuhkan benih

ketidakmanusiawian.



Yuks rentangkan tangan bersama untuk mereka, dan semua korban di

negeri ini. Salam, selamat malam.



Itulah rangkaian laporan langsung dari lokasi kejadian yang

disampaikan @yatiandriyani. Hingga berita ini dibuat, respons di media

sosial masih terus berkembang.



Sabtu hari ini, KontraS akan menggelar konferensi pers tentang kasus

yang menyengat rasa kemanusian kita dan menampar bangsa ini. (Amir

Sodikin)